Tampilkan postingan dengan label ARTIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2012

konser, kantata barock

Tampil dengan sisa-sisa dari masa kejayaannya, kelompok musik Kantata Barock berhasil menghibur penggemarnya yang memadati stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Jumat (30/12) malam.
Sebanyak 24 lagu yang sebagian besar lagu lawas dibawakan oleh Setiawan Djodi, Iwan Fals, Sawong Jabo dengan dibantu beberapa musisi.
Sesuai dengan namanya Kantata Barock, musik yang dibawakan terdengar lebih keras dengan tata panggung yang dimeriahkan permainan cantik lampu warna-warni.
Konsernya dimulai dengan pembukaan oleh Setiawan Djodi yang mengajak penonton menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Djodi sendiri tampak ingin tampil prima, meski kondisinya masih lemah karena baru sembuh dari sakit. Ia bermain tak jauh-jauh dari kursinya. Saat berorasi dan menyanyi, terlihat Djodi seperti tak kuat untuk menyuarakan lagu-lagunya.
Beberapa lagu yang sebagian besar dinyanyikan oleh Iwan Fals, antara lain Badut, Presiden Bonek, Mata Dewa, yang merupakan karya pribadinya. Selain itu, lagu-lagu seperti Bongkar, Bento dan Hio juga tak lupa dibawakan.
Di tengah-tengah konser muncul grup band Kotak dan Once yang membawakan lagu andalan Kotak, Beraksi. Jadilah, Kantata Barock, Once dan Kotak menggebrak dengan lagu keras tersebut.
Konser ini pun dimeriahkan dengan tata panggung yang ciamik. Beberapa foto-foto mantan Presiden dan Presiden RI juga ikut divisualisasikan di latar belakang. Sekilas juga terlihat foto Gayus yang menggunakan baju astronot muncul di atas panggung. Entah apa maksud dari gambar tersebut.
Tak hanya lagu lawas yang dibawakan, beberapa lagu baru juga ikut disajikan. Lagu baru mereka seperti Mukjizat, Barong Bento, Megalomania, dan Ombak diperdengarkan kepada para fans. Dan bisa ditebak, penonton pun hanya bisa mendengarkan tanpa bisa ikut menyanyi bersama.
Selain lebih ngerock, musik Kantata kali ini diperkaya oleh bunyi-bunyian perkusi tradisional. Kantata Barock adalah "jelmaan" baru dari grup musik yang digawangi Iwan, Djodi, dan Jabo. Namun, dari keseluruhan konser, apa yang dibawakan oleh Kantata Barock masih cukup memikat penggemar meski para personelnya tak lagi muda.

Sabtu, 22 Januari 2011

Profil Bona Paputungan

ImageBona Paputungan, 32 tahun ini adalah seorang eks narapidana di lembaga pemasyarakatan kelas II A di Kota Gorontalo. Bona meringkuk di terali besi sejak 11 Maret 2010 dan bebas pada 5 Januari 2011.
Selama meringkuk diterali besi sejak 11 Maret 2010 lalu, ia mengaku mendapat perlakuan kasar dari sipir dalam penjara. Wajahnya babak belur akibat dihantam bogem mentah dan pentungan salah seorang petugas. Belum lagi ia harus menjalani ”ritual” hukuman dari sesama penghuni penjara. Berbeda dengan tahanan yang terjerat kasus pidana korupsi, perlakuan mereka lebih baik dari tahanan lainnya.
Kondisi Bona yang babak belur di jeruji itu dituangkan dalam bait-bait lagu. Salah satu yang menarik adalah berjudul ” Kisah aku dan Gayus Tambunan” yang kemudian diganti menjadi Andai Aku Gayus Tambunan.
Lagu itu lebih menceritakan kisah hidupnya sebagai orang yang lemah tak punya apa-apa, lalu mendapat siksa di penjara. Sementara para koruptor yang dipenjara seperti Gayus Tambunan bisa berbuat apa saja hingga bebas keluar masuk dalam penjara dan plesiran ke luar negeri.” Saya merasakan sendiri kalau ternyata hukum itu bisa dibeli,” kata Bona Paputungan dalam percakapannya kepada Tempo.
Plesiran Gayus Tambunan, terdakwa mafia pajak ke Bali dan sejumlah tempat ke luar negeri menurutnya merupakan bobroknya aparat hukum di Indonesia.
Selain lagu tentang dirinya dan Gayus Tambunan, Bona juga membuat lagu dengan judul ”Markus” atau makelar kasus. Lagu itu ia tulis karena ketika diawal ia meringkuk dalam terali besi, ada beberapa orang Jaksa diwilayah itu yang hendak menawarkan jasa dengan iming-iming bisa membebaskannya dari penjara. Tentu dengan bayaran yang tinggi.
“Negeri ini memang sangat lucu. Jaksa menawarkan saya bebas dengan bayaran tinggi padahal saya harus menjalani hukuman beberapa bulan lagi,” ujar Bona.
Lagu yang diciptakan Bona tersebut kini mulai digarap dan dalam tahap pembuatan video klip. Untuk lagu berjudul ”Andai Aku Gayus Tambunan” dan ”Markus”, video klipnya dibuat didalam lembaga pemasyarakatan kelas II A Kota Gorontalo. Sementara delapan lagu sisanya, video klipnya dibuat diluar penjara.
Untuk produksi lagu dialbumnya itu, kata Bona, ia dibantu oleh salah seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari utusan Provinsi Gorontalo, dan seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo yang sempat mendekam dalam penjara karena kasus korupsi.
Bona Paputungan sendiri mendekam karena tersangkut masalah kekerasan dalam rumah tangga. Ia ditahan sejak 11 Maret 2010 dan dibebaskan pada tanggal 5 Januari 2011.

Para ABG mulai tidak sabar antre tiket Justin Bieber

ImageSuasana di arena penjualan tiket konser Justin Bieber sempat memanas. Para pembeli yang kebanyakan didominasi para ABG itu mulai tidak sabar dengan antrian yang panjang.
Pembeli tiket harus menjalani 4 antrean. Antrean pertama, pembeli mengambil nomor urut. Lalu, antrean kedua masuk ke dalam gedung mengambil ID Card, antrean ketiga menunjukkan ID sambil membayar dan antrean keempat balik keluar dari antrean.
Menurut pantauan detikhot, Sabtu (22/1/2011), antrean yang mengular sejak pagi di pelataran parkir EX Plaza itu mencapai 1 kilometer. Cuaca yang mulai panas membuat sebagian pembeli tidak sabar dan sempat berebut masuk tempat penjualan.

Kamis, 20 Januari 2011

biografi bondan ft fade2black

Bondan Prakoso lahir 8 Mei 1984, ia adalah one of the best bass player di Indonesia. Dulu Bondan adalah penyanyi cilik yang pernah menelurkan album cilik Si Lumba-Lumba. Berkat album Si Lumba-lumba namanya melambung. Alumni D3 Sastra Belanda Universitas Indonesia ini memulai karier remaja dan dewasanya saat membentuk band Funky Kopral ditahun 1999 hingga tahun 2002. Kini ia betah dengan besutannya, Bondan Prakoso & Fade 2 Black.

Bondan Prakoso adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan dari Lili Yulianingsih dan Sisco Batara ini mengawali kariernya sebagai penyanyi cilik di era 80-an hingga awal tahun 90-an. Album perdananya yang bertitel Si Lumba-Lumba sukses dipasaran dan mencuatkan namanya.

Ditahun 1999, Bondan membentuk band Funky Kopral , sebagai bassis, hingga merilis 3 buah album. Bahkan album kedua band ini diganjar penghargaan AMI Sharp Awards ditahun 2001 untuk kategori Group Alternatif Terbaik. Ditahun 2003, Funky Kopral merilis album ketiga mereka dengan kolaborasi bersama Setiawan Djodi dengan hits singel Tokek dan lagi-lagi diganjar penghargaan AMI Sharp Awards ditahun 2003 untuk kategori Kolaborasi Rock Terbaik.

Sayang, setelah album ketiga mereka dirilis, band ini bubar. Hingga ditahun 2005 ia memebentuk band baru bernama Bondan Prakoso & Fade 2 Black dengan genre musik Pop Rock yang dipadu dengan Rap. Dengan band barunya ini, Bondan diganjar penghargaan serupa, yakni AMI Sharp Awards ditahun 2008 untuk kategori Group Rap Terbaik.

Sebelumnya, ditahun 2006 Bondan bersama 12 orang pemain bass dari berbagai band di Indonesia seperti Thomas “GIGI”, Rindra “Padi”, Bongky “BIP”, Adam Sheila on 7 dan bassis Indonesia lainnya diganjar penghargaan oleh MURI untuk penghargaan Penampilan Bassis terbanyak dalam satu panggung.

Pada tanggal 17 Desember 2007, Bondan menikahi kekasihnya yang bernama Margareth atau yang akrab disapa Margie yang bertempat di Restoran Cibintung, Ciputat, Tangerang, dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan 17 gram emas.

Biodata Bondan Prakoso:
Nama Lengkap : BONDAN PRAKOSO
Nama Panggilan : MR B
TTL : 8/MEI/1984
Anak ke : 2 dari 3 bersaudara
Nama Ibu : Lili Yulianingsih
Nama Bapak : Sisco Batara
Agama : Islam
Pendidikan : Lulusan D3 Sastra Belanda UI
Pekerjaan : Musisi, Produser
Hobby : Musik, Membaca, Menonton Film
Musisi/Band Favorit : Les Claypool (Primus), Muse, Dave Mathews Band
Referensi Buku : Huru Hara Kiamat, Jangan Bersedih, Chicken Soup
Makanan Favorit : Chicken Teriyaki, Nasi Goreng Hati/Pete.
Minuman Favorit : Air Mineral
Alamat : PO BOX 1281 JKS 12012
Gelegar Konser Bondan Prakoso feat F2B VS Konser GIGI Di Solo

Suasana Kota Solo 24 Juli lalu benar-benar menggairahkan, betapa tidak tiga band top menggelar pentas di dua tempat berbeda di kota ini. Bondan Prakoso feat Fade 2 Black memukau ribuan fans-nya di GOR Manahan, sedangkan Gigi dan Hello memuaskan ribuan penggemarnya di Stadion R Maladi Sriwedari.
Suasana di GOR Manahan berubah dahsyat ketika Bondan Prakoso feat Fade 2 Black mulai menginjakkan kaki di panggung. Didukung dengan lighting yang memukau, menambah suasana konser menjadi lebih menarik. Meski berdesak-desakan, tak menyurutkan penggemar pelantun lagu Tentang Mimpi itu surut.
Bahkan ketika Bondan Prakoso melantunkan lagu terbarunya dengan judul Ya Sudahlah, penonton pun langsung menyambut dengan tepuk tangan. Tak sesekali penonton turut melantunkan lagu terbaru dari Bondan Prakoso itu. Tak hanya Ya Sudahlah, lagu-lagu di album pertama Bondan pun turut dilantunkan untuk memeriahkan konsernya di Kota Bengawan.

Para penggemar Bondan Prakoso feat Fade 2 Black pun terlihat sangat terhibur. Selain alunan tepuk tangan senantiasa mengiringi lagu demi lagu yang dilantunkan Bondan Prakoso feat Fade 2 Black, tubuh pun turut lonjak-lonjak.
Kehadiran Bondan Prakoso feat Fade 2 Black ini juga mampu mengobati kangen para penggemar setia mereka di kota ini. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu penonton, Aulia Hapsari asal Solo. Aulia merelakan waktu untuk menyaksikan konser yang lokasinya lumayan jauh dari rumahnya. “Kebetulan saya ngefans habis dengan Bondan Prakoso feat Fade 2 Black , maka meski malam-malam tetap saya bela-belakan untuk datang,” terang Hapsari .
Tak hanya Hapsari, Hendri Wirawan pun mengaku tertarik melihat konser Bondan Prakoso feat Fade 2 Black lantaran sangat menyukai lagu-lagu yang dibawakan. Terlebih album terbaru Bondan Prakoso feat Fade 2 Black yaitu Ya Sudahlah. “Lagu Bondan Prakoso feat Fade 2 Black bagus, makanya saya tidak mau melewatkannya,” pungkasnya.
Sementara itu, konser band Gigi dan Hello di Stadion Maladi, menyedot setidaknya 12.000 penonton. Sebagai band pembuka, Hello menyanyikan dua lagu hits-nya, Dua Cincin dan Ular Berbisa. Band Gigi makin menyemarakkan konser malam itu dengan single terbarunya, Sang Pemimpi disambung lagu religinya, Perdamaian.
Guna menjaga kondusivitas penonton, panitia menyediakan air semprotan untuk para penonton yang berkumpul di depan panggung. Puluhan petugas keamanan juga disebar ke seluruh penjuru stadion. Tak hanya itu, terlihat beberapa orang polisi berada di tengah kerumunan penonton yang berjingkrak-jingkrak. Salah seorang panitia, Wardoyo menyatakan, konser tersebut cukup sukses. “Kami bisa mendatangkan sekitar 12.000 penonton, baik dari dalam maupun luar Solo. Dan sebelum ini, kami juga menyelenggarakan lomba yang ditujukan bagi band-band lokal,” jelasnya kepada Joglosemar, Sabtu (24/7).
Salah satu penonton yang berasal dari Bandung, Taufik mengatakan, konser itu adalah kali pertamanya melihat pementasan Gigi. “Saya dari Bandung, dan kebetulan sedang di berkunjung ke tempat saudara di Solo. Jadi sekalian nonton saja. Dan konsernya sangat seru, jadi tak rugi jauh-jauh nonton. Lagu yang paling saya suka adalah Sang Pemimpi dan Andai,” tandasnya.
BONDAN PRAKOSO Ketika bersama Bass Heroes

Psychedelic Sub Rhythm, suatu istilah yang dibuatnya sendiri.

Ditemui di belakang panggung sehabis pertunjukan Bass Heroes beberapa tahun yang lampau, mantan personil Funky Kopral itu mengaku ingin melawan opini yang salah mengenai alat musik bass.

“Opininya bass kan sebagai pengiring, tapi buktinya sekarang bass bisa tampil ke depan,” tuturnya.

Mengenai aliran musik dari lagu yang dibawakannya, peraih penghargaan Best Bass Player TML pada 1998 itu menyebut komposisi yang dimainkannya sambil bernyanyi tersebut merupakan campuran antara funk, rock serta sedikit progresif.

Sementara itu, selain Bondan, konser ‘Bass Heroes’ juga menampilkan 12 bassist lain yaitu Thomas Ramdan (basis Gigi), Rindra Risyanto Noor (Padi), Adam (Sheila on 7), Ronny Febri Nugroho (Coklat), Bongky Marcel (BIP), Indro Hardjodikoro, Bintang Indrianto, Barry Likumahua, Iwan Xaverius, Arya Setiyadi, Nissa Hamzah (Ommelette), Ari Firman serta musisi pendukung Andre Dinuth (guitar) dan Hendy dari Gigi (drum).

Hasil kolaborasi dari 13 bassist tersebut dapat dinikmati lewat album ‘Bass Heroes’ yang diproduksi oleh Sony BMG Music. Album itu kemudian memperoleh penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “album musik rekaman dengan pemain bas terbanyak”.

Rabu, 19 Januari 2011

Madonna (entertainer)

Upper body of a middle-aged blond woman. Her hair is parted in the middle and falls in waves to her shoulder. She is wearing a loose dress with black and brown prints on it. A locket is hung around her neck, coming up to her breasts. She is looking to the right and is smiling.Madonna (born Madonna Louise Ciccone; August 16, 1958) is an American recording artist, actress and entrepreneur. Born in Bay City, Michigan, she moved to New York City in 1977 to pursue a career in modern dance. After performing in the music groups Breakfast Club and Emmy, she released her debut album in 1983. She followed it with a series of albums in which she found immense popularity by pushing the boundaries of lyrical content in mainstream popular music and imagery in her music videos, which became a fixture on MTV. Throughout her career, many of her songs have hit number one on the record charts, including "Like a Virgin", "Papa Don't Preach", "Like a Prayer", "Vogue", "Frozen", "Music", "Hung Up", and "4 Minutes". Madonna has been praised by critics for her diverse musical productions while at the same time serving as a lightning rod for religious controversy.
Her career was further enhanced by film appearances that began in 1979, despite mixed commentary. She won critical acclaim and a Golden Globe Award for Best Actress in Motion Picture Musical or Comedy for her role in Evita (1996), but has received harsh feedback for other film roles. Madonna's other ventures include being a fashion designer, children's book author, film director and producer. She has been acclaimed as a businesswoman, and in 2007, she signed an unprecedented US $120 million contract with Live Nation.
Madonna has sold more than 300 million records worldwide and is recognized as the world's top-selling female recording artist of all time by the Guinness World Records. According to the Recording Industry Association of America (RIAA), she is the best-selling female rock artist of the 20th century and the second top-selling female artist in the United States, behind Barbra Streisand, with 64 million certified albums. In 2008, Billboard magazine ranked Madonna at number two, behind only The Beatles, on the Billboard Hot 100 All-Time Top Artists, making her the most successful solo artist in the history of the Billboard chart. She was also inducted into the Rock and Roll Hall of Fame in the same year. Considered to be one of the "25 Most Powerful Women of the Past Century" by Time for being an influential figure in contemporary music, Madonna is known for continuously reinventing both her music and image, and for retaining a standard of autonomy within the recording industry. She is recognized as an inspiration among numerous music artists.

Contents

[hide]

Life and career

1958–81: Early life and beginnings

Madonna Louise Ciccone was born in Bay City, Michigan on August 16, 1958. Her mother, Madonna Louise (née Fortin), was of French Canadian descent, and her father, Silvio Anthony Ciccone, was a first-generation Italian American.[1] The Ciccone family originated from Pacentro, Italy; her father later worked as a design engineer for Chrysler and General Motors. Madonna was nicknamed "Little Nonni" to distinguish her from her mother.[2][3] The third of six children, her siblings are Martin, Anthony, Paula, Christopher, and Melanie.[4] Madonna was raised in the Detroit suburbs of Pontiac and Avon Township (now part of Rochester Hills).
Her mother died of breast cancer at the age of 30 in 1963.[4] Months before her mother's death, Madonna noticed changes in her behaviour and personality from the attentive homemaker she was, although she did not understand the reason.[5] Mrs. Ciccone, at a loss to explain her dire medical condition, would often begin to cry when questioned by Madonna, at which point Madonna would respond by wrapping her arms around her mother tenderly. "I remember feeling stronger than she was," Madonna recalled, "I was so little and yet I felt like she was the child."[5] Madonna later acknowledged that she had not grasped the concept of her mother dying. "There was so much left unsaid, so many untangled and unresolved emotions, of remorse, guilt, loss, anger, confusion. [...] I saw my mother, looking very beautiful and lying as if she were asleep in an open casket. Then I noticed that my mother's mouth looked funny. It took me some time to realize that it had been sewn up. In that awful moment, I began to understand what I had lost forever. The final image of my mother, at once peaceful yet grotesque, haunts me today also."[6]
Madonna eventually learned to take care of herself and her siblings, and she turned to her grandmother in the hope of finding some solace and some form of her mother in her. The Ciccone siblings resented housekeepers and invariably rebelled against anyone brought into their home ostensibly to take the place of their beloved mother.[5] In an interview with Vanity Fair, Madonna commented that she saw herself in her youth as a "lonely girl who was searching for something. I wasn't rebellious in a certain way. I cared about being good at something. I didn't shave my underarms and I didn't wear make-up like normal girls do. But I studied and I got good grades.... I wanted to be somebody."[5] Terrified that her father could be taken from her as well, Madonna was often unable to sleep unless she was near him.[5] Her father married the family's housekeeper Joan Gustafson, and they had two children: Jennifer and Mario Ciccone.[7] At this point, Madonna began to express unresolved feelings of anger towards her father, that lasted for decades, and developed a rebellious attitude.[5] She attended St. Frederick's and St. Andrew's Elementary Schools, and then West Middle School. She was known for her high grade point average, and achieved notoriety for her unconventional behavior: she would perform cartwheels and handstands in the hallways between classes, dangle by her knees from the monkey bars during recess, and pull up her skirt during class—all so that the boys could see her underwear.[8]
Rochester Adams High School, where Madonna studied.
Madonna later attended Rochester Adams High School, and was a straight-A student and a member of the cheerleading squad.[4] After graduating, she received a dance scholarship to the University of Michigan.[9] She convinced her father to allow her to take ballet lessons[10] and was persuaded by Christopher Flynn, her ballet teacher, to pursue a career in dance.[11] At the end of 1977 she dropped out of college and relocated to New York City.[12][13] She had little money and worked as a waitress at Dunkin' Donuts and with modern dance troupes.[14] Madonna said of her move to New York, "It was the first time I'd ever taken a plane, the first time I'd ever gotten a taxi cab. I came here with $35 in my pocket. It was the bravest thing I'd ever done."[15] She started to work as a backup dancer for other established artists. During a late night, Madonna was returning from a rehearsal, when she was dragged up an alleyway by a pair of men and forced to perform fellatio at knifepoint. Madonna had later commented that "the episode was a taste of my weakness, it showed me that I still could not save myself in spite of all the strong-girl show. I could never forget it."[16] While performing as a dancer for the French disco artist Patrick Hernandez on his 1979 world tour,[8] Madonna became romantically involved with musician Dan Gilroy. They formed her first rock band, the Breakfast Club,[7][17] for which Madonna sang and played drums and guitar. In 1980 she left Breakfast Club and, with her former boyfriend Stephen Bray as drummer, formed the band Emmy. Their music impressed DJ and record producer Mark Kamins who arranged a meeting between Madonna and Sire Records founder Seymour Stein.[18][19]

1982–85: Madonna, Like a Virgin and marriage to Sean Penn